Tuesday, June 30, 2009

part 7

Part 7 – MOS (?) (bagian 1)

Sion buru-buru bergegas ke kamar 20, tempat anak asuhnya. Sion membuka dengan kunci serep yang ia punya. Lalu membangunkan anak asuhnya, sudah jam 5 pagi.

“Obiet, Abner, Olin, Bastian bangun semuaaa” kata Sion keras, hingga membangunkan ke 4 adik asuhnya.

“Hoaaaam... kak, emang sekarang jam berapa sih?” gumam Olin, matanya masih setengah melek.
“jam 5! Ayo! Entar Mr. Jim meriksa ke sini loh. Kalo tau pada belom bangun, bisa gaswat!” ancam Sion.

Mr. Jim adalah pengawas asrama putra. Dia selalu patroli keliling keliling kamar. Ia mengawasi kalo ada murid yang masih keluyuran. Tenta aja, kalo ketahuan bisa dapat hukuman yang dijamin bisa bikin jera.

Buru-buru, Obiet, Olin, Abner dan Bastian bergegas ke kamar mandi yang sudah penh dari jam 4 tadi.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Irva menuju kamar cadangan, melihat keadaan adik asuhnya. Irva tersenyum lebar, ternyata mereka sudah bangun dan sudah ada yang siap untuk MOS hari ini.

Shila melihat ranjang Irva yang kosong. Ia pun mengucek-ngucek matanya. Hm, paling lagi nge-cek adik asuhnya. ADIK ASUH! Auh, shila lupa dengan adik asuhnya. Ia pun bergegas ke lantai 3, menuju kamar nomor 17. dan benar, adik asuhnya belum bangun.

“Kak angel, pake baju ini kan?” tanya Gita menunjukkan jas almamater, kemeja putih, rok putih, dan dasi biru. Angel mengangguk sambil menyisir rambut halus Oik. Lalu memberikan jepit kupu-kupu warna putih.
“Nah, Oik kan jadi lucu” komen Angel. Oik tersenyum.
“Makasih kak angel” Oik mengucapkan terima kasih.

Agni masuk ke kamar setelah mandi. Ia melihat Oik yang sudah siap dengan seragamnya. Agni juga sudah siap, ia hanya tinggal mengeringkan rambutnya yang basah.

“Nah, sini agni! Kak angel make over” tawar kak Angel sambil megambil hair dryer dan sisir. Agni sih gak keberatan kalo Cuma diginiin. Tapi kalo udah pake bedak, blush on, lipstik, segala macem, ogah deh!

Rahmi sudah siap, ia rapi banget. Gita juga udah siap. Mereka udah siap mau ke sekolah, dipandu oleh Angel. Oh iya, tak lupa mereka membawa tas. Angel menuntun adik asuhnya itu ke lapangan.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Gabriel udah siap sama tim OSIS nya. Tinggal menunggu anak-anak kelas 1 lengkap aja.

“Kalian diem disini aja dulu ya” kata Septian pada Adik asuhnya.
“Iya kak” kata Debo, Patton, Irsyad dan Cakka serempak.

Irsyad tampak celingukan ke arah tempat duduk cewek. Patton rada risih icad (Irsyad) yang celingukan gak jelas.
“cad, ngapain sih? Ngeceng ia?” tebak Patton.
“Iya! Abis, gue bete, mending liatin cewek disebrang” jawab icad sejujur jujurnya. Cakka tertawa, begitu pun Debo.

Gak lama, rombongan Obiet datang, mereka duduk di dekat anak-anak kamar 16. Debo melongok ke rombongan kamar 20. muka mereka kusut.

“Hey, muka kalian kok kusut banget?” tanya Debo pada Abner yang duduk disebelahnya.
“hooo. Kita tidur larut banget. Habis gulat” kata Abner nagsal berat. Tapi bodohnya, Debo percaya aja mereka habis gulat.
“Hah? GULAT?? Siapa yang menang??” tanya debo penasaran. Ini membuat Abenr jadi bangkit lalu tertawa.
“Jyakakakak! Ni anak percaya lagi! Gak lah, kita gak habis gulat! Tapi perang bantal...” jelas Abner.

Debo merasa malu. Ia pun menyudahi percakapan singkat dengan Abner. Lalu, ia fokus sama Gabriel yang berdiri di depan anak kelas 7. sudah mau mulai ternyata.

NGIIIK, mike berbunyi. Menandakan sudah nyala mikenya. Gabriel pun mulai berbicara.

“ngg... saya gak tau mau ngomong apa nih, eeehh,, to the point aja deh. Oke, saya bakal ngebagi kalian jadi beberapa kelompok. Eehh, nih, Riko bakal negbacain siapa-siapa aja kelompoknya. Oh iya, ini dibagi dalam beberapa Laskar...” terang gabriel. Semua mengangguk menegerti. Gabriel pun menyuruh Riko kedepan untuk membacakan kelompok-kelopmpoknya.

“Eh, laskar #1, Dina, Artam, Obiet, Abner, Selly, dan Cahya”
“laskar #2, Rahmi, Oik, Ferry, Cakka, Olin, dan Irsyad”
“laskar #3, Fahmi, Rena, Gita, Debo, Ourel dan Bastian”
“laskar #4, Patton, Agni, Chika, Ilham, Emil, Dan Osa”

Terus, ada banyak laskar yang disebutkan Riko. Lalu, gabriel menyuruh tiap laskar bergabung dengan laskar yang lain. Laskar 1, 2, 3, dan 4 menyatu. Lalu mereka membuat sebuah lingkaran.

Pembina 4 laskar ini Shila, Sivia, dan Septian. Mereka pun mengambil tempat berkumpul mereka dibawah pohon beringin. Septian pun megambil alih buat memulai acar perkenalan ini.

bersambung....

part 6

haha, mulai seru nih...

Part 6 – 1 day before MOS

Setelah malam penerimaan selesai, kakak-kaka asuh mereka memberi tahu kepada anak asuhnya bahwa besok akan diadakan acara MOS. MOS ini tak sama kayak disekolah negri lainnya. Melainkan hanya mengenalkan sekolah ini pada murid baru.

Kita lihat ke kamar 15...

Anak-anak kamar 15 sudah siap dengan piyamanya. Rahmi tampak sibuk menyiapkan seragam untuk besok. Agni sibuk dengan kancing bajunya yang ternyata salah masukin lobangnya. Kalo oik dan Gita, sibuk nyisir ngadep kaca sambil nyanyi-nyanyi Hymne ICA yang tadi sempat dinyanyikan.

Rahmi tertawa melihat Oik dan Gita yang sedikit memain-mainkan lirik hymne ICA. Agni juga tertawa, sambil membetulkan kancing bajunya.

GREEEK, tiba-tiba Irva membuka kamar nomor 15 ini. Irva menjadi kakak asuh kamar 13 yang sempat bertukar dengan Angel.

“Ya kak?” kata rahmi sambil tersenyum.
“Boleh nitip Cahya, Ourel, Osa sama Selly gak?” tanya Irva. Endengar itu, Oik melihat ke belakang Irva, ada 4 orang cewek yang juga memakai piyama.
“Mmm... boleh-boleh aja sih kak! Tapi kenapa ya?” rahmi membolehkan sambil bertanya kenapa.

Sebelum Irva menjawab, Irva menyuruh ke 4 anak asuhnya masuk ke dalam kamar 15.
“Belum jelas! Tiba-tiba AC di kamar 13 keluar asep-asep gitu... makanya aku mau bilang ke Ms. Reina soal ini. Titip ya...” Irva menjelaskan lalu menutup pintu kamar no. 15.

Oik mendekati Cahya dan teman-temannya. Lalu tersenyum,
“hai! Aku Oik! Kalian dari kamar 13 ya?? Kenalin ini Gita, terus tadi Rahmi, sama yang lagi betulin kancing itu Agni!” kata Oik memperkenalkan penghuni kamar 15. Cahya tersenyum. Begitu pun yang lain. Oik anak yang ramah dan juga murah senyum.

Gita menghampiri ke 4 anak kamar 13.
“have fun aja sama kita disini! Ikutan yoook karokean bareng aku dan Oik!” ajak Gita. Tanpa malu-malu lagi, mereka beneran karokean bareng.

Sementara itu, Irva menghubungi Ms. Reina yang ada di bawah.
“Miss, di kamar 13 AC nya keluar asep! Bisa panggilin Mang Jaja?” keluh Irva. Ms. Reina terkejut juga dengan perkataan Irva.
“Bentar ya va, kamu tunggu aja di kursi itu. Saya telepon dulu” jawab Ms. Reina yang mulai memencet tombol telepon di mejanya.

Irva duduk menunggu Ms. Reina dan juga kedatangan Mang Jaja. Tiba- Tiba Shila, teman Irva lewat.

“Va? Gak ke kamar?” tanya Shila, yang kebetulan sekamar sama Irva.
“Enggak! Paling entar jam 10-an aku baru tidur. Kamar 13 ada masalah!” kata Irva menjelaskan. Shila mengerutkan keningnya.
“Masalah? Oh, aku denger, AC nya keluar asep-asep gitu ya?” tembak Shila tepat. Irva hanya mengangguk. Shila tersenyum lalu pamit menuju kamar.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Patton memeluk bantal gulingnya. Tampak terlelap. Debo belum tidur, dia ribut sama cakka rebutan DS nya Irsyad. Irsyad sih gak keberatan DS nya diperebutkan. Icad malah sibuk cahttingan sama temen SDnya.

“Gue dulu!” renegk cakka, Debo gak mau kalah.
“Gue! Cak, lo ngalah napa??”
“Gaak! Sini! Kalo gue kalah, lo yang main, deal?!” tawar cakka. Debo berhenti berebut DS.
“Deal!” kata debo mantap.

Cakka kalah telak, jagoannya, Sonic dapat dikalahkan. Debo tertawa.
“Makanya cak! Dibilangin pake Kenuckles aja” kata debo langsung merebut DS nya dari tangan Cakka.

Cakka menarik selimutnya, berencana tidur. Daripada meratapi kesedihan gak bisa main DSnya Irsyad, mending dengerin iPod tercinta. Dan gak tau kenapa, ia terpikir cewek yang ia tabrak tadi.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Mang Jaja akhirnya datang dengan sekotak perlengkapan. Irva menunjukkan ke Ac yang mengeluarkan banyak asap. Ternyata, sudah menegpul asapnya di kamar 13. dan BUM! Suara ledakan terdengar seisi asrama putri.

Semua berhamburan. Asap tabah mengebul. Dan gara-gara ada sensor pemadam api, SRRRT, air keluar dari tiap langit – langit kamar. Kamar 13 emang gak nguntungin!

Semua basah. Kasur, buku-buku. Kesan pertama anak-anak kelas 7 disini lumayn buruk. Apalagi Irva yang tertunduk lesu, karena gagal dalam menjaga kamar 13. tapi, menurut Ms. Reina, ini bukan salah Irva atau yang lain. Ini salah pihak sekolah.

Untuk, air yang keluar tak keluar banyak. Jadi hanya becek saja. Anak-anak kamar 13 terpaksa diungsikan ke kamar cadangan di lantai 5.

bersambuuunngggg

part 5

Part 5 – Malam Penerimaan.

Angenda hari ini adalah, pada malam hari, ada penerimaan siswa baru. Yah, hanya sekedar makan malam saja sih. Dan pasti, ada sambutan sambutan gak jelas dari si-pemilik-sekolah, dan juga kepala sekolah.

Debo membolak balikkan buku agenda yang ia terima dari kakak asuhnya, Septian. Cakka tampak mengantuk. Irsyad sibuk bertelepon ria dengan abangnya. Sedangkan Patton, ia berusaha membereskan pakaiannya.

“Mandi ah!” kata Cakka memecah keheningan. Debo tersenyum, sepertinya ia juga mau mandi.
“Ikut cak!” kata debo girang. Ia pun mengambil alat mandinya. Begitu pun Cakka. Lalu mereka berdua berlalu meninggalkan kamar menuju kamar mandi.

Huah, ternyata di kamar mandi penuh. Ini jam 4 sore. Sudah mendekati acara penerimaan. Pantas saja banyak yang mandi. Dengan Malas, Cakka dan Debo mengantri.

Gak hanya anak kelas 7 (anak baru) yang mau mandi. Kelas 8 dan 9 pun banyak yang mau mandi. Hah, kamar mandi yang super mewah ini mendadak jadi sumpek.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

“Udah mandi Ik?” tanya Gita yang sedang menyisir rambut indahnya. Oik mengangguk. Lalu duduk diranjangnya.
“langsung pake seragam ya?” tanya Oik sambil melihat baju yang sekarang ia kenakan. Seragam hari selasa-rabu-kamis sekolah ICA.
“Iya ik! Sebel deh” rengek Gita, lalu mengeringkan rambutnya yang basah.
Tak lama itu, muncul Agni dan rahmi yang baru selesai mandi. Dan juga sudah mengenakan seragam ICA.
Agni ikutan menyisir rambutnya. Sedangkan Rahmi membetulkan jilbabnya. Cukup sulit memakai jilbab yang tidak langsung (yang hanya kain).

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Setelah terdengar adzan maghrib, dan bagi yang beragama Islam sholat, anak-anak baru, termasuk anak kelas 8 dan 9 berhambur ke Dining Room besar di dalam gedung sekolah.

Kakak-kakak asuh tampak kerepotan mengatur anak asuhnya. Semua sibuk menduduki meja sesuai kamar.

Di dining room, megah sekali. Terdapat lampu-lampu besar, lukisan lukisan, dan beberapa piagam peghargaan yang diterima ICA yang dibingkai. Masuk ke ruangan ini kesannya Anggun.

Musik klasik diputar. Hidangan mulai datang. Anak-anak mulai menempati kursi mereka. Acara pun di mulai.

Terlihat di depan, ada Mr. Adrian, pemilik sekolah ini. Ada juga kepala sekolah, Ms. Ira. Dan guru-guru yang lain.

“Waahh... keren ya sekolah ini! Gak salah deh gue masuk” kata Irsyad berbisik pada Cakka, Debo dan Patton. Mereka bertiga sangat setuju dengan Irsayd.

Tak lama setelah itu, Ms. Ira mulai berpidato tentang sekolah ini dan juga murid yang sudah diterma di sekolah ini. Anak-anak kelas 8 dan 9 sudah tampak bosan dengan pidato Ms. Ira yang selalu sama.

Lalu, setelah itu, Mr. Adrian mulai berpidato yang tentunya lebih membosankan lagi. Mana campur bahasanya, Indo-Inggris.

Cakka tampak menguap mendengar pidato-pidato geje. Diam-diam, ia merogoh sakunya, dan mengeluarkan iPod nya. Lalu menyetelnya. Debo tahu Cakka melakukan hal ‘yang seharusnya takm dilakukan’. Tapi, apa boleh buat. Debo juga merasa bosan. Gak hanya cakka yang melakukan hal serupa. Anak-anak pun banyak yang melakukannya. Malah, salah satu anak OSIS! Ck ck ck...

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Akhirnya, acara pdato-pidatoan udah selesai. Saat nya acara makan makan. Yang paling semangat adalah Patton. Ia menyantap hidangan dengan lahapnya.

Acara makan-makan ini juga disertai hiburan. Kebanyakan dari anak kelas 8 dan 9 yang mengenalkan berbagai eskul dan club. Semua tampak enjoy pada sesi ini. Tentu saja, sama sekali gak membosankan!

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Acara ini berakhir jam 9 malam. Anak-anak pun digiring masuk ke asrama masing-masing dengan kakak asuhnya. Anak-anak dengan berdesakan keluar dari dining room.

Oik dan Agni tampak kesusahan melewati anak-anak yang berdesakan keluar. Akhirnya, Oik dan agni memutuskan mengalah dan menunggu di belakang.

Dan tanpa gak sengaja, ada cowok yang menabrak Oik.
“Sorry!” katanya, lalu meninggalkan Oik. Oik hanya diam. Hm, Oik sih gak meduliin cowok yang tadi gak sengaja nabrak oik itu.

Dari kejauhan, Oik dan Agni malihat Angel memanggil mereka. Untung sudah sedikit tak berdesakan. Dan akhirnya, mereka ke asrama tanpa berdesakan.

part 4

Part 4 – new student (bangian 3)

“Cuma berdua doang Pat?” tanya Debo sambil memberes-bereskan bajunya ke dalam lemari. Patton mengangguk lemas. Patton juga mulai membereskan baju-bajunya masuk ke dalam lemari.

Debo tampak apik dalam mebereskan baju-bajunya. Dan gak lebih dari 5 menit, Debo selesai membereskan semua. Termasuk buku-buku dan alat alat yang akan ia pakai. Patton hanya melongok melihat ke-apik-an Debo. “kayak cewek” batinnya.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Gita terbangun. Ia sedikit kaget juga, ternyata di kamarnya sudah ada 3 orang cewek yang lagi sibuk beres-beres. Gita mengucek-ngucek matanya.

“Ag, siapa mereka?” tanya Gita sambil sedikit menguap. Agni menoleh ke atas.
“Oh, ini Rahmi, terus yang itu Oik” Agni memperkenalkan Rahmi dan Oik. Rahmi dan Oik pun tersenyum melihat Gita, begitu pun Gita.
“Oh, haha. Salam kenal~! Aku Gita” Gita memperkenalkan diri.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

BRUK BRUK BRUK! Terdengar hentakkan kaki dari luar kamar 16. seperti langkah orang yang sedang kesal.

“Nih, kamar kamu! Mas pulang yah ke Yogya. Jaga baik-baik diri kamu ya Cak. Telpon mas El aja ya kalo ada apa-apa” Masnya menyerahkan koper anak cowok yang namanya Cakka ini.

Cakka menghembuskan napas panjang, membuka kamar 16. matanya menyipit melihat siapa yang di dalam.
“DOR!” kaget patton yang tiba-tiba muncul dari bawah. Jelas aja Cakka kaget, tapi, Cakka berusaha cool.
“Adoooh! Bikin kaget aja lo.” Protes Cakka.
“Hahahaha! Selamat datang di kamar 16!!” kata patton lantang, Cakka spontan menutup telinganya.
“Heeeh, iya. Masih ada kasur kosong kan?” tanya Cakka, Patton mengangguk, dan menunjuk ke kasur yang di bawah yang masih kosong.

Cakka menganggkut kopernya ke dalam. Ia tanpa basa- basi langsung beres-beres. Lagi-lagi, patton melongok. Cakka juga tampak Apik membereskan pakaiannya. Jujur, Patton gak bisa kayak Cakka dan Debo. Patton terkesan anak yang asal-asalan, jarang beres-beres kayak gini.

“Lo gak beres-beres hey?” tanya Cakka tiba-tiba.
“Entar! Abis gue gak bisa” kata Patton sambil nyengir kuda. Debo terkikik. Cakka hanya tersenyum, “aneh” pikir Cakka.

“Disini kak?”
“Iya, disini syad” jawab Septian mengantar Irsyad, Penghuni terakhir kamar 16. serentak, Cakka, Debo, Patton melihat ke arah Irsyad. Mereka bertiga tersenyum, lalu nyengir ke Irsyad,

“HAI IRSYAAAD” sapa cakka, debo dan Patton.
“Hehe” Irsyad hanya nyengur, dan kalian tahu dari mana Cakka, Debo dan Patton mengetahui nama Irsyad? Jelas aja, Di dada irsyad ada stempel bertulikan ‘Nama: Irsyad’ berukuran besar. Septian kaget juga melihat irsyad, hingga tertawa dalam hati.

part 3

yap yap... part 3! gak usah pek pembuka ya...

Part 3 – new student (bagian 2)

Angel mengantar Gita sampai di depan pintu kamar 15. Gita membuka pintunya. Dan waw, Gita terpana dengan isinya. Ia juga sedikit kaget juga, ternyata sudah ada yang menghuni kamar ini.

“Gita, ayo masuk! Oh iya, nih, koper-koper kamu! Bawa kedalam ya. Kakak mau balikin trolley ini dulu. Permisi...” pamit Angel. Gita tersenyum. Tak lupa, ia mengucapkan terima kasih.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

“Patton! Pelan-pelan!” kata kakak asuh Patton, Septian, yang kualahan mengejar Patton yang terlalu bersemangat. Patton terlalu girang, ia tak sabar ingin masuk ke kamar asrama. Soalnya, saat ia lihat di internet, isinya bagus banget.

Patton kegirangan, sampai akhirnya, BRUUUK. Patton terjatuh, ia lupa, bahwa tali sepatunya belum terikat dengan benar. Pada saat itu juga, Septian tertawa. Patton memegangi lututnya, terasa nyut-nyutan.

“Makanya Patton! Turutin, apa kata kakak asuh mu ini...” kata septian bangga, masih sambil terkekeh puas.
Patton hanya cemberut dirinya ditertawakan. Ia pun kembali berjalan, masih dengan lutut yang sakit. Mulai dari hari ini, Patton berpikir, bahwa, ‘Terlalu semnagat, akibatnya Fatal!”.

Grek, pintu kamar Patton, kamar 16, dibuka oleh Septian. SIIIING. Di dalam masih kosong. Patton tambah gondok aja.
“Yah kak! Aku sendiri nih?” keluh Patton pada Septian.
“Iya lah! Nih, ambil koper-koper kamu... aku mau kebawah dulu. Mungkin aja ada temen sekamar kamu! See ya” Septian meninggalkan Patton sendiri. ‘Kakak asuh apaan tuh?’ keluh Patton dalam Hati. Ia pun dengan malas mengangkut kopernya ke dalam. Ia pun memilih kasur yang paling atas. Dan membaringkan tubuhnya.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

“Aku Agni” kata seorang cewek berambut pendek, dan gayanya menandakan kalau ia anak yang tomboy. Gita terseyum pada Agni, lalu mendekati Agni.
“Aku Gita! Salam kenal~”
“Eh, aku Bantuin yah bawa kopernya” tawar Agni, melihat Gita sedikit kesusahan menganggkut kopernya. Gita merasa tertolong.
“Makasih! Eh, kamu tidur dimana?” tanya Gita, saat kopernya sudah masuk semua.
“Diatas. Dibawah aku masih kosong kok! Mau?” tawar Agni lagi. Gita tampak menimbang-nimbang.
“Gaaak ah! Mau di atas juga” akhirnya, Gita memutuskan tidir di ranjang atas. Gita mulai menaiki ranjangnya. Lalu merebahkan tubuhnya. Menutup matanya, entah kenapa ia lelah. Agni hanya diam, lalu ia melihat kak Angel datang, bersama 2 orang perempuan. Hm, mungkin ini 2 orang yang tersisa.

Angel mengatakan pada 2 cewek itu, untuk masuk dan beres-beres. 2 cewek itu mengangguk, lalu mulai mengangkut koper dan ransel mereka.

“Tolongin dong!” Pinta cewek berkucir kuda, memakai dress garis-garis dan sepatu fantofel, tampak lucu.
“Eh, iya” kata Agni sigap membantu cewek itu.
“Oik, gak sopan ah nyuruh-nyuruh gitu” kata cewek yang satu lagi. Cewek ini berbeda dari yang lain. Ia memakai jibab hitam. Rahmi namanya.
“Heheh, sorry...” jawab oik, pada Agni. Agni hanya tersenyum ramah sama Oik.

Tak lama setelah itu, merek berkenalan. Kecuali Gita, mungkin ia udah tidur duluan. Rahmi melihat ke ranjang Atasnya.

“Siapa cewek yang ada di atas aku?” tanya Rahmi kepada Agni. Agni menjawab,
“Gita... sst. Biar aja dia tidur... kayaknya dia capek” Agni melarang Rahmi yang awalnya ingin emmbangunkan Gita.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

Patton masih diam di kamarnya. Belom ada teman yang datang. 5 menit... eh, tau-tau ada yang masuk sambil ngos-ngosan. Tampaknya, ia penghuni kamar 16 juga deh.

Tanpa basa-basi, Patton mendekati cowok yang ngos-ngosan itu.
“Kamar 16 juga?” tanya Patton datar.
“Ha? Iya... iya... hah...” jawab cowok itu, lalu tersenyum.
“Patton ya? Masih inget gue ga?” tanya cowok itu, pattton mengerutkan kening. Memang, Patton tampak mengenali cowok yang satu ini. Hm... patton berpikir keras.
“Lupa. Tapi kayaknya gue pernah liat lo sih” jawab Patton sambil garuk-garuk kepalanya. Cowok itu geleng-gelelng.
“Patton, patton... dasar! Gak bisa nginget-nginget muka orang ganteng sih! Gue Debo! Inget gak? Temen TK lo” terang cowok yang bernama Debo. Senyum Patton tiba-tiba terkembang.
“DEBOO! Adudyuuuh, debo ku cayaaaang, kita ketemyu lagyi!” kata Patton girang melihat Debo. Patton spontan mencubit pipi Debo yang emang imut. Debo rada kesel juga sih, pipinya dicubit-cubit.
“Uuuh, patton ah! Udah, aku mau masuk!” Kata Debo sambil menarik kopernya masuk ke dalam.

bersambung...

part 2 nya

ini lanjutannya :) part 2

Part 2 – New student (bagian 1)

Tampak seorang laki-laki memakai jas almamater warna biru donker, vest warna biru juga, kemeja warna putih, dasi yang serasi dengan Jasnya dengan bros ICA, celana panjang yang juga serasi, dan sepatu hitam pekat. Cowok itu tampak sibuk. Itulah ketua OSIS. Namanya Gabriel.
Gabriel tampak sibuk bulak-balik di koriodor sekolah. Tentu saja, hari ini siswa-siswa baru akan datang. Ia pun sibuk memerintah bawahannya untuk mengingat-ingat siapa anak asuhnya.
“Oke, yon, lo ngasuh anak kamar nomor... hm... bentar. Ah, nomor 20” jelas Gabriel pada temannya yang bernama Sion. Gabriel pun menyerahkan secarik kertas kepada Sion yang berisikan daftar anak asuhnya. Disitu lengkap, ada biodata dan fotonya pula.
“Kalo gue iel?” tanya seorang perempuan lucu, bertubuh sedikit besar, Angel.
“Hm... nih, kamar nomor 13” kata gabriel sambil memberikan secarik kertas juga.
“Yah, 13~! Gak ada yang bagusan apa iel?” keluh Angel yang punya pendapat bahwa nomor 13 adalah angka sial.
“Gak ada! Semua udah dibagiin! Kalo mau tukeran sama Irva yang kayaknya gak niat ngasuh kamar 15” terang gabriel, buru-buru Angel menghampiri Irva.

Hampir semua anak OSIS dapat mengasuh anak asuhnya. Yah, kakak-kakak asuh inilah yang akan ngasuh anak baru saat MOS saja.

Tampak diluar banyak mobil yang berdatangan masuk. Tampak anak-anak membawa koper dan ransel yang besar-besar. Tentu dibantu oleh orang tua dan OB ICA. OB-OB dari ICA bergegas membantu para murid baru mengangkut kopernya. Tersedia Trolley.

“Aha!! Nyampe jugaaa!” kata seorang cowok melompat dari mobilnya. Orang tuanya geleng-geleng melihat kelakuan anaknya itu.
“Patton! Ke kanak-kanakan banget sih!” gerutu kakaknya, yang ada di dalam mobil.
“Iya Patton, dasar, kamu ini. Udah sana, bawa ransel kamu” kata mamanya menyuruh anak laki-laki yang bernama Patton ini. Patton hanya mengangguk riang.

Kalau ditanya impian terbesar patton adalah, bersekolah di ICA. Entah kenapa, ia sudah keburu ‘jatuh cinta’ sama sekolah ini. Sebelumnya, patton gak sengaja nemu website sekolah ini di google. Dan toh, sebuah sekolah. Patton pun tertarik untuk melihat ‘isi’ dari sekolah ini. Dan waw! AMAZING. Patton jatuh cinta sama sekolah ini pada pandangan pertama.

Setelah berunding dengan Orang tuanya, akhirnya pattoon dapat bersekolah disini.

“Mas Gogon gak mau nganter Patton?” tanya Patton sambil melongo ke dalam mobil. Disitu, Kakaknya, Mas Gogon, terlihat mengantuk, lalu menggelengkan kepalanya.
“Gak ah pat! Mas capek. Udah sana, entar kalo kangen telpon Mas aja yah, hahaha” canda Mas gogon. Patton mengangguk, lalu menarik Trolley nya bersama mamanya.

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

“Kamar... 15!” kata seorang cewek imut berambut panjang. Ia memakai bandana waran ungu, kaos putih plus jaket ungu. Tak lupa Rok wana putih dan sepatu snakers warna ungu juga. Ungu adalah warna kesukaannya. Ransel yang ia bawa pun berwarna ungu.

“Kamar berapa sayang? 15? Hm, disebelah sana kayaknya” ujar mamanya sambil mendorong Trolley. Cewek itu memutar matanya mencari kamar nomor 15. kamar nomor 15 ada di lantai 3.

Setelah di lantai 3, cewek itu melihat Angel sedang berkeliling. Angel tersenyum melihat cewek ini, lalu menghampirinya.

“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tanya Angel sopan sambil tersenyum lebar.
“Ah! Iya kak! Kakak tau kamar nomor 15 dimana?” tanya cewek itu tanpa rasa malu. Anak yang gak malu bertanya.
“Oh, kebetulan saya kakak asuh kamar 15! Nah, ya sudah, yuk kakak antar! Tante, boleh saya yang dorong trolley nya?” tanya Angel sangat sopan pada mama cewek ini.
“Oh! Silahkan! Tolong antar Gita ya... Gita, mama pulang ya! Kalo ada apa-apa telpon mama aja...” kata mamanya sambil mengelus pundak cewek itu. Cewek itu hanya mengangguk.
“dah mamaaaa!” kata Gita, yang ternyata nama anak ini.

maaf ya pendek2. dan maaf sekali lagi, bahasanya sangat balelol!

mau buat cerita :)

he,, mau buat cerita (tentang idola cilik)
lagi on progress sih. tapi, silahkan baca! dari part 1 ya
(sekarang lagi mentok di part 30. okke)

Part 1 – sekolah IC academy.

Bulan Juli, awal masuknya anak-anak sekolah ke sekolah mereka. Dan yang baru lulus, tentu saja masuk sekolah barunya.
Sekolah ini baru dibangun 2 tahun lalu. Murid-muridnya pun masih terbilang sedikit. Kebetulan, sekolah ini terletak jauh dari keramaian. Para orang tua murid kebanyakan tahu sekolah ini dari Dunia Maya. Dan kebanyakan mendaftarkan anaknya secara online.
Sekolah ini ada di Bandung. Tahun ini, akan ada anak-anak baru muncul. Yang tentu saja yang lulus tes ujian. Dan rata-rata nilai harus diatas 70. sekolah ini bertaraf international. Biaya masuknya pun lumayan mahal, tak seperti sekolah-sekolah pada umumnya.
Ada fasilitas beasiswa bagi yang kurang mampu. Dan sayangnya, jarang sekali yang menggunakan fasilitas itu. Beruntunglah orang it mendapat beasiswa yang cukup menggiurkan.

Sekolah ini adalah sekolah boarding school. Siapapun yang sekolah disini, harus tinggal di asrama. Soal kualitas dan kenyamanan disini tak usah diragukan. Disebelah kiri dan kanan sekolah, berdiri megah asrama putra dan putri. Tentu saja asrama putra dan putri dipisah.
Ada sekitar 40 kamar disini. Ternyata, murid disini bertambah banyak, setelah beberapa bulan lalu ankatan kelas 9 memenangkan beberapa perlombaan. Dan kebanyakan menjadi runner up.
Dalam satu kamar, disediakan 2 kasur tingkat. Tentu hanya 4 orang saja yang menghuni per satu kamarnya. Selain kasur, ada lemari pakaian, tempat merias wajah, drak buku dan meja belajar.
Setiap murid boleh membawa alat alat yang ngin yang mereka bawa seperlunya saja. Kecuali alat-lat yang berbahaya pastinya.

Kamar mandi dipisahkan dari kamar. Disetiap lantai, terdapat 10 kamar mandi yang dapat dipakai bergilir. Sedangkan di lobby, lantai paling bawah, ada dining room. Dan juga bank siswa. Di bank itulah, orang tua menitipkan segala sesuatunya. Seperti kiriman uang, atau pun sekedar mengirimkan makanan.
Cara mengambilnya pun tentu tak mudah. Harus menunjukkan kartu pelajar. Kartu pelajar ini juga berfungsi sebagai ID Card, untuk menelepon orang tua. Fasilitas telepon tentu dibatasi.

Selain dining room dan bank siswa, tepat dibelakang gedung sekolah, terdapat taman dan koprasi. Disitu tidak hanya menjual alat-alat sekolah, juga menyediakan makanan.
Sekolah ini juga menyediakan fasilitas untuk olah raga. Lapangan futsal, lapangan basket, lapangan kasti, lapangan berkuda, memanah, kolam renang, dan bahkan Golf (waaah).
Intinya, sekolah ini sudah bisa di cap PREFECT.

Dan tak lupa, ada organisasi yang berjalan di sekolah ini. Sama seperti sekolah pada umumnya, OSIS disini ada. Dan ada banyak ekskul dan Club yang bisa diikuti oleh para siswa. Seluruh siswa boleh mengikuti club dan eskul yang mereka sukai ebih dari 2. asalkan, bisa membagi waktu.

Dan dimulailah kehidupan disekolah ini...


bersambung! maaf banyak kata2 yg salah dan tak dimengerti ^^